Oleh: Elmansyah Al-Haramain, S.PdI., M.S.I.Pertanyaan di atas, mungkin pertanyaan yang tergolong sangat konyol, di tengah-tengah arus informasi yang demikian deras. Hampir semua media informasi, mulai dari Koran, Majalah, Buletin, Buku, dan lain sebagainya, terutama media elektronik yang kian menjamur, sebagian besar menggunakan media tulis. Demikian juga dengan internet, umumnya hanya bisa diakses dengan membaca.
Kehadiran media peramban Google dengan fasilitas selangit, sangat memudahkan para netter melakukan pencarian melalui kata kunci yang dikehendaki. Dalam sekejap, ribuan bahkan milyaran data dapat ditelusuri lebih lanjut. Sebagian besar data-data tersebut masih berupa tulisan dengan berbagai bahasa yang tersedia. Karenanya, mau tidak mau, orang harus tetap membaca.
Membaca
Secara umum, membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca tentu saja melibatkan fungsi otak, dalam rangka mengenali simbol yang menyusun sebuah bahasa tulis (http://id.wikipedia.org/). Membaca merupakan aktifitas yang sangat berguna bagi perkembangan dan pemeliharaan otak manusia. Dengan membaca, banyak hal yang dapat diperoleh,dari aktifitas membaca, antara lain:
Pertama, Merupakan Proses Mental. Membaca, tidak seperti menonton televise, mendengarkan radio, atau main playstation. Membaca adalah cara menggunakan otak agar tetap bekerja sesuai fungsinya. Ketika membaca, seseorang akan dipaksa untuk memikirkan banyak hal yang belum diketahuinya. Dalam proses ini, seseorang akan menggunakan sel abu-abu otak untuk berfikir, sehingga akan menjadi semakin baik. Kedua, Meningkatkan Perbendaharaan Kata. Dengan membaca, seseorang akan belajar bagaimana mengira suatu makna dari suatu kata (yang belum diketahui) pada sebuah kalimat. Buku, terutama yang menantang, akan menampakkan begitu banyak kata yang mungkin belum diketahui. Ketiga, Meningkatkan Konsentrasi. Untuk sebuah buku, membutuhkan konsentrasi yang cukup intens, agar dapat memahami keinginan penulisnya atau sekedar menikmatinya. Buku yang menantang, akan membantu si pembaca terbiasa berkonsentrasi, sehingga kebiasaan itu akan mudah diterapkan pada bidang-bidang lainnya. Keempat, Membangun Kepercayaan Diri. Semakin banyak yang dibaca, akan semakin banyak pengetahuan yang didapatkan. Bertambahnya pengetahuan, akan semakin membangun kepercayaan diri. Kelima, Meningkatkan Daya Tampung dan Refleksitas Memori. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa jika seseorang tidak menggunakan memorinya, maka bukan tidak mungkin ia akan kehilangan memori itu. Membaca, meski hanya bacaan ringan, akan sangat membantu meregangkan “otot” memori. Karena membaca itu memerlukan ingatan yang detail, terhadap fakta dan gambar pada suatu literatur, alur, tema atau karakter cerita. Oleh sebab itu, kebiasaan membaca akan mengurangi resiko terkena penyakit Alzheimer (kepikunan). Kelima, Meningkatkan Kreatifitas. Membaca tentang keanekaragaman kehidupan dan membuka diri terhadap ide dan informasi baru akan membantu perkembangan sisi kreatif otak, karena otak akan menyerap inovasi tersebut ke dalam proses berfikir dan berbuat. Keenam, Mengurangi Kebosanan. Buku, pada umumnya menarik, karena jika tidak menarik, maka tidak akan pernah diterbitkan oleh penerbit. Oleh sebab itu, membaca buku pastilah menarik, sehingga akan mampu mengurangi rasa bosan yang sering kali menghantui kebiasaan dan kegiatan sehari-hari yang monoton (lebih lanjut, Baca: Media Islam Online).
Demikianlah, tentang banyaknya manfaat membaca bagi kehidupan manusia secara umum. Tentunya, di era teknologi informasi yang semakin maju dan merambah ke berbagai pelosok dunia, hampir semua orang tahu, betapa besar manfaat membaca. Akan tetapi, tidak sedikit pula orang yang enggan membaca. Banyaknya fasilitas audio-visual yang beredar di masyarakat, membuat orang lebih suka melihat dan mendengarkan informasi dari pada membacanya, tak terkecuali umat Islam.
Perintah Membaca
Islam merupakan satu-satunya agama yang menekankan pentingnya membaca. Hal ini dapat dilihat dari sejarah kerasulan Muhammad SAW, bahwa yang pertama kali diperintahkan kepadanya adalah membaca. Sebagaimana, dalam firman Allah SWT, pada ayat yang pertama kali di turunkan (Surat Al-'Alaq: 1-5), yang berbunyi:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ.عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. yang mengajari (manusia) dengan pena. Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya".
Ayat tersebut, tidak hanya berlaku untuk Rasulullah SAW saja, melainkan untuk semua umat Islam. Allah SWT memerintahkan umat manusia agar membaca. Hal ini selaras dengan fitrah manusia yang memiliki akal pikiran yang selalu berkembang dan akal pikiran tersebut tidak dimiliki oleh makhluk Allah SWT selain manusia. Dengan demikian, prilaku membaca akan mengantarkan manusia ke arah fitrahnya (http://fkip.wiraraja.ac.id/).
Lebih lanjut, membaca merupakan aktifitas ilmiah yang menjadi wajib bagi umat Islam. Melihat struktur kalimat yang muncul dalam ayat-ayat yang pertama turun di atas, dari segi ilmu bahasa sudah dapat ditebak bahwa perintah “Iqra”-nya yang tidak diikuti oleh objek, menuntut keberadaan objek atas suatu perintah. Sehingga, objeknya bisa dikatakan segala sesuatu yang bisa dijadikan objek baca.
Menurut M. Quraish Shihab: Kata Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti “menghimpun”, sehingga tidak selalu harus diartikan “membaca teks tertulis dengan aksara tertentu”. Dari kata “menghimpun” lahirlah ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Dengan demikian, Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis maupun tidak tertulis. Alhasil, obyek Iqra’ adalah segala sesuatu yang dapat dijangkaunya (M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an…, 2007: 5-7).
Mengapa Harus Membaca?
Berdasarkan uraian di atas, maka ada beberapa alasan tentang mengapa seseorang harus membaca:
1. Membaca adalah perintah Allah SWT. Jika sesuatu itu merupakan perintah, niscaya Allah SWT akan mempersiap imbalannya (pahala), meskipun pahala itu akan ditentukan oleh obyek yang dibaca.
2. Membaca sangat bermanfaat untuk menjaga fungsi otak agar senantiasa sehat dan penuh informasi penting bagi kehidupan sehari-hari.
3. Membaca adalah aktifitas ilmiah. Oleh karena itu, bagi para ilmuan atau orang yang sedang menuntut ilmu, atau tenaga pendidik, menjadi wajib untuk membaca. Apalagi mahasiswa, ada kata-kata bijak yang menyatakan bahwa: “Yang namanya Mahasiswa, istilahnya bukan lagi belajar, tapi membaca”. Maksudnya, para mahasiswa tidak perlu lagi seperti anak SMA/SMK, belajar hanya menunggu diajar, bekerja hanya menunggu diperintah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang namanya mahasiswa, ia harus mulai membaca: membaca gelagat alam, manusia dan keberadaan Tuhan dengan segala harakah-Nya. Itulah hakekat nama “Maha” yang identik dengan sifat Tuhan dalam sebutannya yang diikuti dengan kata “Siswa” yang berarti orang yang sedang belajar atau menuntut (ilmu).
4. Membaca buku berarti memanusiakan buku. Menurut J. Kristiadi, dalam “Bunga Rampai Perbukuan di Indonesia”, orang yang memanusiakan buku niscaya akan dibukukan oleh manusia. Orang yang tidak pernah memanusiakan buku, maka jangan berharap bisa dibukukan manusia! Maksudnya, orang pandai karena hasil membaca itulah yang suatu saat akan ditulis orang tentang dirinya, sehingga menjadi sebuah buku (entah itu biografi, atau sekedar kutipan dari hasil karyanya), yang pasti namanya masuk dalam buku-bukun. Itulah yang disebut dengan “Dibukukan”.
5. Membaca adalah kunci kesuksesan. Suatu ketika penulis pernah bertanya kepada salah seorang tokoh Muhammadiyah yang telah mendunia. Sebut saja tokoh itu adalah Prof. M.A.R. Mengenai kunci kesuksesannya, ia mengatakan bahwa kunci sukses adalah meneladani orang yang telah sukses sebelumnya. Dalam hal ini, ia meneladani Muhammad Abduh, yang sukses di abad ke-19. Menurutnya, kesuksesan Muhammad Abduh terletak pada kebiasaannya membaca. Ada target minimal dalam sehari-semalam, yakni target 50 (lima puluh) halaman buku. Sang professor dulunya menargetkan membaca seperti Muhammad Abduh. Tapi karena eranya berbeda, maka ia menambahnya sedikit dari Muhammad Abduh. Targetnya ditambah menjadi minimal 51 (lima puluh satu) halaman sehari-semalam. Hasilnya, luar biasa! Sang professor telah sukses dalam di bidang yang menjadi spesifikasinya.
Jadi, sebagai umat Islam, membaca adalah sesuatu yang telah menjadi kewajiban, sekaligus kebutuhan fitrah yang mutlak dilakukan. Al-Qur’an telah mendorong itu semua sebagai kewajiban agama. Selanjutnya, secara eksplisit, Islam mendorong umatnya untuk menulis. Jika ada sebuah adagium yang berbunyi, “Shalatlah Engkau sebelum dishalatkan”, maka akan adagium lainnya yang berbunyi: “Membacalah, sebelum Engkau dibacakan (Al-Qur’an)”; “Menulislah di atas kertas, sebelum namamu tertulis di atas Nisan”. Demikianlah jawaban atas pertanyaan, kenapa kita harus membaca? Wallaahu’alam.


0 komentar :
Posting Komentar